Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaHEDLINENASIONAL

Dugaan Ketidaksesuaian Menu Program MBG di Pandeglang, Wali Murid Desa Cibungur Desak Evaluasi Pengelolaan

513
×

Dugaan Ketidaksesuaian Menu Program MBG di Pandeglang, Wali Murid Desa Cibungur Desak Evaluasi Pengelolaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pandeglang — Rakyat Oposisi

Kegelisahan mulai menyelimuti para walimurid penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang. Program yang seharusnya menjadi harapan bagi pemenuhan gizi anak-anak tersebut kini menuai sorotan setelah muncul dugaan ketidaksesuaian antara kualitas makanan yang disajikan dengan anggaran yang semestinya dialokasikan.

Sejumlah walimurid menyampaikan kekecewaan terhadap oknum mitra pengelola program melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan bagi para siswa. Mereka menilai menu yang diberikan tidak mencerminkan standar nilai anggaran yang telah ditetapkan.

Salah satu walimurid, Kasman, mengungkapkan bahwa setelah dilakukan perhitungan secara sederhana oleh para orang tua, nilai makanan yang diterima anak-anak diduga jauh di bawah angka yang seharusnya.

“Setelah kami hitung, menu yang diberikan tidak mencapai Rp10 ribu per porsi,” ujar Kasman, Senin (9/3/2026).

Program MBG pada dasarnya merupakan langkah strategis pemerintah dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi anak-anak sekolah. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai bantuan pangan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Dalam skemanya, SPPG bertanggung jawab mengelola penyediaan makanan bergizi, mulai dari pengadaan bahan pangan hingga distribusi kepada para penerima manfaat. Sistem tersebut juga dirancang agar mampu memberdayakan pemasok lokal sekaligus menjaga transparansi dalam rantai distribusi pangan.

Namun di Desa Cibungur, sejumlah walimurid menilai pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan tujuan program.

Bagi para orang tua, persoalan ini bukan semata tentang nilai rupiah, melainkan menyangkut kepercayaan terhadap pengelolaan program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar anak-anak.

“Makanan untuk anak-anak bukan sekadar bantuan. Itu menyangkut kesehatan dan masa depan mereka,” ungkap salah satu walimurid lainnya.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut. Transparansi penggunaan anggaran, kualitas menu makanan, serta pengawasan terhadap mitra pelaksana dinilai menjadi langkah penting agar program tetap berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.

Walimurid berharap program yang dirancang untuk meningkatkan gizi generasi muda itu tidak tercoreng oleh dugaan penyimpangan di tingkat pelaksanaan.

Bagi masyarakat Desa Cibungur, harapan mereka sederhana: anak-anak dapat menerima makanan yang layak, tumbuh sehat, dan program yang digagas negara benar-benar hadir untuk menjaga masa depan generasi penerus bangsa. (Red)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!